Pertama-tama, penting untuk memahami bahwa di Indonesia, gelar profesi bidan ditulis sebagai S.Keb. yang berarti Sarjana Kebidanan. Saya masih ingat saat saya baru lulus dan sangat bangga dengan gelar saya, tetapi saya bingung tentang bagaimana cara menuliskannya. Setelah mencari tahu, saya menemukan bahwa gelar ini harus ditulis di belakang nama, bukan di depan.
Misalnya, jika namamu Mikasa Ackerman, maka penulisan yang benar adalah: Mikasa Ackerman, S.Keb.
Profesi bidan sering kali hanya dikenal sebagai tenaga kesehatan yang membantu ibu melahirkan. Tapi, sebenarnya profesi ini jauh lebih dalam luas dan rumit. Saya akan membagikan langkah-langkah untuk menjadi bidan dan bagaimana penulisan gelar profesi bidan yang benar.
Cara Menjadi Seorang Menjadi Bidan
Kuliah kebidanan untuk menjadi bidan, kalian harus menempuh pendidikan di Jurusan Kebidanan. Di Indonesia, jenjang pendidikan ini dimulai dari D3 Kebidanan, D4 Kebidanan, S1 Kebidanan, hingga Pendidikan Profesi Bidan.
- D3 Kebidanan: Program diploma tiga ini memberikan dasar-dasar kebidanan.
- S1 Kebidanan: Setelah menyelesaikan D3, kalian bisa melanjutkan ke program sarjana kebidanan selama 4 tahun atau 8 semester.
- Pendidikan Profesi Bidan: Setelah S1, kalian harus menempuh pendidikan profesi bidan selama 2 semester atau 1 tahun. Tanpa ini, lulusan D3/S1 Kebidanan tidak boleh berpraktik sebagai bidan, sesuai peraturan UU No.4 Tahun 2019.
Mendapatkan gelar setelah menyelesaikan Pendidikan Profesi Bidan, kalian akan mendapatkan gelar Bidan (Bd) yang disematkan di belakang nama. Misalnya, Sarah, Bd. Dengan gelar bidan tersebut, anda dapat praktik mandiri dengan mengantongi legalitas berupa Surat Tanda Registrasi (STR).
- Gelar S1 Kebidanan: Sarjana Kebidanan (S.Keb)
- Gelar D3 Kebidanan: Ahli Madya Kebidanan (A.Md.Keb)
Penulisan Gelar Profesi Bidan yang Benar
Gelar profesi harus ditulis dengan benar dan sesuai ketentuan, misalnya, gelar bidan (Bd) ditulis setelah nama lengkap. Contoh: “Sarah, Bd.”
Memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) Setelah lulus, kalian harus memiliki STR, yaitu bukti tertulis yang diberikan oleh konsil Kebidanan kepada bidan yang telah diregistrasi. STR adalah tanda pengakuan hukum yang memungkinkan bidan untuk menjalankan praktik kebidanan.
Memiliki Surat Izin Praktik Bidan (SIPB) Untuk bisa berpraktik secara mandiri, seorang bidan harus memiliki SIPB, yang merupakan bukti tertulis dari pemerintah daerah kabupaten/kota setempat.
Kewajiban Seorang Bidan
Dalam praktiknya, seorang bidan harus menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. Beberapa kewajiban utama seorang bidan meliputi:
- Memberikan pelayanan kebidanan sesuai dengan kompetensi dan mematuhi kode etik.
- Memberikan informasi yang jelas dan lengkap tentang tindakan kebidanan kepada klien atau keluarganya.
- Memperoleh persetujuan dari klien atau keluarganya sebelum melakukan tindakan.
- Merujuk klien ke dokter atau fasilitas kesehatan lain jika diperlukan.
- Mendokumentasikan asuhan kebidanan sesuai dengan standar.
- Menjaga kerahasiaan kesehatan klien dan menghormati hak mereka.
- Melakukan pertolongan gawat darurat dan tugas khusus yang ditetapkan oleh pemerintah pusat.
- Terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan atau pelatihan.
Penulisan Gelar di Undangan Pernikahan, Wajib atau Tidak?
Saat menghadiri pernikahan, saya sering memperhatikan detail kecil penulisan nama lengkap beserta gelarnya di dalam undangan. Dan apa sih sebenarnya motif di balik penulisan gelar ini?
Pertama, mari kita bahas apakah penulisan gelar itu wajib. Secara hukum atau formal, tidak ada aturan baku yang mengharuskan pasangan pengantin untuk mencantumkan gelar di undangan pernikahan.
Namun, banyak pasangan memilih untuk melakukannya sebagai bentuk penghargaan terhadap pendidikan dan prestasi yang telah dicapai. Ini menunjukkan bahwa mereka bangga dengan gelar yang dimiliki dan ingin berbagi kebanggaan itu dengan tamu undangan.
Motif di balik penulisan gelar juga bisa bervariasi. Beberapa orang mungkin memang merasa bahwa ini menambah kesan formal dan elegan pada undangan. Ketika saya melihat undangan dengan nama dan gelar yang lengkap, saya merasa ada penghormatan terhadap gelar yang diraih atau mungkin memang ingin “sombong” saja. Niat hati, tak ada yang tau, kan?!
Ada juga faktor gengsi yang tidak bisa diabaikan. Dalam beberapa budaya, memiliki gelar yang tinggi dianggap sebagai prestasi dan kebanggaan tersendiri. Jadi, tak jarang pasangan pengantin ingin menunjukkan bahwa mereka berasal dari latar belakang pendidikan yang baik.
Namun, ini bukan satu-satunya alasan. Banyak pasangan yang menuliskan gelar bukan hanya untuk gengsi, tetapi juga sebagai pengakuan terhadap kerja keras dan usaha yang telah mereka lakukan untuk mencapai gelar tersebut.
Selain itu, penulisan gelar di undangan pernikahan bisa berfungsi sebagai identifikasi. Dalam situasi sosial yang lebih formal, nama lengkap beserta gelar membantu tamu untuk mengenali siapa pengantin, terutama jika mereka tidak mengenal pasangan secara langsung. Ini bisa menjadi cara yang baik untuk memperkenalkan diri kepada keluarga dan teman dari pasangan yang lain.
Namun, pada akhirnya, penulisan gelar di undangan pernikahan adalah pilihan pribadi. Beberapa pasangan mungkin merasa lebih nyaman untuk hanya mencantumkan nama tanpa gelar, dan itu sama sekali tidak mengurangi makna dari pernikahan mereka. Setiap pasangan memiliki cara unik untuk merayakan cinta mereka, dan itulah yang paling penting.






