Mungkin kamu sudah sering mendengar istilah Multi Level Marketing (MLM), namun belum tentu kamu tahu apa makna dan cara kerja dari sistem tersebut. Dalam artikel ini penulis akan menjelaskan apa yang dimaksud dengan MLM itu sendri supaya banyak pembaca yang tercerahkan.

Ada yang tertarik masuk ke Multi Level Marketing (MLM)? Stigma MLM menjadi buruk karena banyaknya oknum baik perusahaan maupun perorangan yang menjamur di lapangan.

Sebaiknya jangan mudah percaya dan tergiur pada teman yang tiba-tiba memberikan informasi seputar bisnis MLM yang sering memamerkan uang di medsos. Cari tahu lebih dalam terlebih dahulu apa sih MLM itu?

Strategi bisnis MLM adalah sering digunakan perusahaan karena dianggap menguntungkan bagi perusahaan. Sebab, sistem pemasarannya berbentuk piramida berisikan anggota upline dan anggota downline.

Apa Itu MLM?

Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, Multi Level Marketing diartikan sebagai pemasaran berjenjang yang merupakan strategi dimana tenaga penjual (sales) tidak hanya mendapat kompensasi atas penjualan, namun juga atas hasil penjualan sales lain yang berhasil mereka rekrut. Sales yang direkrut ini dikenal dengan nama anggota “downline”.

Multi Level Marketing adalah salah satu bentuk marketing atau pemasaran yang saat ini sudah banyak digeluti oleh banyak orang. Di dalam negeri, perusahaan yang menerapkan bisnis MLM ini sudah banyak sekali, mulai dari bidang nutrisi hingga kosmetik. Istilah lain yang sering digunakan untuk bisnis MLM ini adalah pemasaran piramida atau pemasaran jaringan.

Bisa dibilang jika bisnis Multi Level Marketing adalah pemasaran berjenjang. Ini adalah strategi pemasaran dimana penjual (sales) tidak hanya mendapatkan kompensasi dari penjualan yang mereka hasilkan, tetapi juga penjualan dari sales lain yang mereka rekrut. Semakin banyak yang direkrut olehnya, semakin banyak penghasilanya. Hmm manarik, bukan?

MLM yang benar harusnya memiliki produk yang dijual dengan harga kompetitif. Selain itu, fungsi produk yang dijual harusnya sudah lolos uji dan bersertifikasi, apalagi jika produknya adalah alat kesehatan. Seringkali kita temui bahwa MLM tidak menjual apa-apa, namun hanya merekrut anggota saja.

Bagaimana cara bergabung dengan MLM? Mudah, kamu hanya perlu membayar biaya pendaftaran yang nilainya sesuai dengan starter kit (bukan paket). Syarat yang terlalu berbelit justru berasal dari MLM abal-abal, dimana kita harus membeli beberapa paket lalu membawa dua downline sekaligus maka bisa dipastikan ini MLM KW, istilah lainnya berupa skema piramida atau ponzi.

Keanggotaan Pemasaran Berjenjang

Promotor (upline) adalah anggota yang sudah mendapatkan hak keanggotaan terlebih dahulu, sedangkan bawahan (downline) adalah anggota baru yang mendaftar atau direkrut oleh promotor. Akan tetapi, pada beberapa sistem tertentu, jenjang keanggotaan ini bisa berubah-ubah sesuai dengan syarat pembayaran atau pembelian tertentu.

Komisi yang diberikan dalam pemasaran berjenjang dihitung berdasarkan banyaknya jasa distribusi yang otomatis terjadi jika bawahan melakukan pembelian barang. Promotor akan mendapatkan bagian komisi tertentu sebagai bentuk balas jasa atas perekrutan bawahan. Namun ada juga beberapa MLM yang tidak memberikan bonus atas jasa perekrutan, karena bonus perekrutan termasuk bonus yang dilarang berdasarkan Permendag No 13 tahun 2006 Bab I Pasal 1 ayat 11.

Ciri-ciri Bisnis MLM

Berdasarkan pengertian bisnis pemasaran berjenjang dapat diambil ciri-ciri yang ada di dalam bisnis MLM sebagai berikut:

  • MLM adalah salah satu strategi pemasaran produk.
  • Sistem pemasaran apa itu MLM dilakukan secara berjenjang.
  • Keikutsertaan anggota dimulai dengan proses registrasi.
  • Setiap jenjang anggota memiliki nama sendiri.
  • Anggota bisnis MLM adalah berhak mendapatkan komisi atau bonus selama memenuhi syarat.
  • Para aggota tidak bertindak selaku karyawan perusahaan umumnya.
  • Anggota tidak memiliki waktu kerja.
  • Pengembangan jaringan pemasaran dilakukan lintas wilayah bahkan negara.
Baca juga:   Ketahuilah! Begini Cara Menagih Gaji ke Bos

Tujuan Bisnis MLM

Sesuai pengertiannya, MLM memiliki tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan bersama tiap anggotanya. Semua perusahaan pastilah mencari untung sebesar-besarnya dan mengurangi pengeluaran seminimal mungkin.

Selain itu, metode bisnis MLM juga ditujukan untuk dapat meningkatkan keuntungan perusahaan dengan dua cara, yaitu sebagai berikut.

  1. Meningkatkan pemasukan, perusahaan dapat meningkatkan pemasukan dengan cara meningkatkan laba serta omset penjualan.
  2. Mengurangi pengeluaran, ada dua cara yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk mengurangi pengeluarannya yaitu dengan memindahkan produk lebih dekat ke pelanggan, sehingga biaya kirim yang dikeluarkan tidak akan terlalu banyak. Kedua dengan merekrut tenaga penjualan berdasarkan komisi yang diberikan.

Sistem bisnis MLM memiliki tujuan yang sama dengan sistem marketing lainnya. Sama halnya dengan sistem marketing lain, MLM juga memiliki tujuan untuk mendapatkan keuntungan maupun mencapai kesuksesan yang bersifat obyektif di mata perusahaan serta anggotanya.

Contoh-contoh Bisnis MLM

Kini, ada banyak sekali bisnis MLM yang dijalankan oleh perusahaan. Baik perusahaan tersebut telah terkenal maupun tidak. Berikut adalah beberapa contoh dari bisnis MLM yang masih bertahan hingga kini.

1. Amway

Amway adalah salah satu perusahaan dengan bisnis MLM yang peringkatnya teratas dengan pusat di Amerika Serikat. Amway menjual produk berupa kosmetik dan juga alat-alat kebugaran. Omzet Amway tercatat telah mencapai lebih dari USD 8,8 miliar.

2. Tupperware

Siapa sangka, kotak penyimpanan makanan Tupperware merupakan perusahaan yang menerapkan sistem bisnis MLM. Tupperware sendiri merupakan perusahaan yang terpusat di Orlando, Amerika dan telah berdiri sejak tahun 1948. Tupperware ini menjadi perusahaan besar sejak tahun 1950-an, karena menerapkan sistem penjualan produk dengan potongan harga apabila konsumen menjadi member dari Tupperware.

Seperti yang diketahui brand Tupperware ini banyak digunakan oleh ibu-ibu Indonesia serta dikenal sebagai salah satu produk yang berkualitas dengan harga yang cukup mahal.

3. Herbalife Nutrition

Herbalife Nutrition merupakan salah satu perusahaan MLM yang sebelumnya sempat booming di Indonesia. Perusahaan ini bergerak di bidang nutrisi serta weight management dengan berbagai macam suplemen nutrisi serta produk perawatan kulit.

Herbalife Nutrition didirikan di Los Angeles, Amerika pada tahun 1980 dan telah beroperasi di lebih dari 90 negara yang ada di seluruh dunia.

Produk-produk Herbalife Nutrition sempat booming, ketika program diet maupun kebiasaan hidup sehat mulai marak. Produk Herbalife menawarkan berbagai macam produk yang diklaim dapat membantu diet serta menjaga pola hidup yang sehat dengan cara yang mudah dan enak.

4. NU Skin

Perusahaan MLM dengan peringkat bagus lainnya adalah Nu Skin yang menduduki peringkat 11 serta menjadi salah satu dari 100 perusahaan terbaik menurut Forbes

5. Oriflame

Seperti Tupperware nama Oriflame juga sangat populer di telinga masyarakat Indonesia. Bahkan banyak ibu-ibu muda yang telah menjadi member dari MLM Oriflame tersebut. Bisnis MLM dengan produk kosmetika dan perawatan kecantikan asal Swedia tersebut memang cukup digemari kaum hawa di Indonesia. Jaringan Oriflame berada di 60 negara dengan jumlah omset mencapai USD 1,5 miliar.

Apa Bedanya Multi Level Marketing Dengan Bisnis Biasa?

Clothier (1994), menjelaskan bahwa terdapat beberapa hal yang membedakan bisnis MLM dengan bisnis konvensional, yaitu:

  • Armada penjualan. Dalam sistem MLM, tenaga pemasar adalah para distributornya sendiri, jadi para distributor tersebut akan menjadi bos dan mempekerjakan dirinya sendiri. Sedangkan untuk bisnis konvensional, barang harus melewati pihak produsen-distributor-pedagang eceran-dan konsumen.
  • Pembagian keuntungan. Pada sistem MLM, pihak distributor akan mendapatkan imbalan dari perbandingan langsung atas usaha yang mereka lakukan. Sedangkan pada bisnis konvensional, mereka yang mendapat keuntungan adalah para pemilik, direktur, dan distributor. Para pihak pengecer akan turut mendapat keuntungan, namun dengan margin yang kecil.
  • Menjual produk. Seluruh penjualan MLM akan dilakukan secara langsung. Sedangkan pada bisnis konvensional, pihak konsumen baru akan mendapatkan produk yang diinginkannya dengan berbelanja di toko-toko tertentu.
Baca juga:   Pengalaman Kerja di Mixue

Kelebihan dan Kekurangan Multi Level Marketing

Segala hal pasti punya kekurangan dan kelebihan yang dia usung termasuk sistem bisnis dengan pemasaran berjenjang. Berikut beberapa di antaranya:

Keunggulan Multi Level Marketing

  • MLM bisa mendatangkan pasif income yang ternyata cukup menjanjikan sebagai tambahan gaji tetap tiap bulan.
  • MLM melatih setiap membernya untuk mengasah keahlian komunikasi dengan downline-nya, sehingga akan membentuk jiwa personal selling yang sangat kuat.
    Memperluas relasi bisnis.

Peluang Untung yang Besar

Sistem kerja anggota MLM jauh berbeda dari sistem kerja kantoran yang umumnya dijalankan. Jika biasanya seseorang harus bekerja secara terus menerus untuk bisa meraup keuntungan, MLM tidak memaksakan anggota MLM untuk terus berjualan. Ini dikarenakan adanya sistem komisi setiap kali anggota MLM berhasil menjual produk dan merekrut anggota baru.

Bagaimana caranya? Ambil contoh seorang anggota MLM berinisial A berhasil merekrut temannya. Temannya pun sudah merekrut kerabat lainnya untuk ikut bergabung. Artinya, A sudah membentuk sebuah grup dengan 2 orang anggota MLM asuhannya dan akan menerima komisi dari setiap jual beli yang dilakukan kedua anggota ini.

Fleksibel Tidak Terikat

Salah satu keuntungan dari bergabung MLM adalah kamu tidak perlu bekerja sesuai dengan jam kantor. Kapan pun kamu ingin aktif berbisnis MLM, kamu bisa melakukannya tanpa ada kekangan dari perusahaan MLM. Dengan begitu, bisnis MLM ini menjadi pilihan bagus untuk kamu yang tengah mencari sumber penghasilan tambahan.

Kamu dapat menjalankan bisnis MLM sembari tetap bekerja di kantor. Bahkan, kamu pun semakin dimudahkan untuk berjualan dan merekrut anggota MLM baru ketika ada di kantor. Pada dasarnya, semakin banyak koneksi yang kamu miliki, akan semakin mudah pula untuk bisa berkarir di bisnis MLM.

Maka dari itu, bisnis MLM juga begitu digandrungi oleh kalangan ibu rumah tangga karena bisa berpenghasilan tanpa harus mengorbankan waktu bersama keluarga. Kapan lagi kamu bisa berbisnis dengan waktu yang fleksibel selain dari bisnis MLM?

Sulit Merekrut Anggota

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, merekrut anggota MLM baru adalah salah satu tugas utama dalam bisnis MLM ini. Semakin banyak anggota MLM yang tergabung, maka bisa dikatakan akan semakin banyak produk yang terjual. Akan tetapi, konotasi dari bisnis MLM sendiri sudah dalam lensa negatif di mata masyarakat Indonesia. Tidak jarang juga kasus di mana anggota MLM dijauhi oleh teman-teman dan keluarganya karena takut diprospek.

Oleh karena pandangan negatif inilah para anggota MLM menghadapi kesulitan untuk merekrut anggota MLM baru. Alhasil, peluang untung pun akan berkurang karena kini harus bergantung sepenuhnya dengan penjualan produk. Terlebih lagi bisnis MLM yang cenderung kurang mampu mempertahankan anggota. Banyak anggota MLM yang hanya bertahan selama beberapa bulan saja dan akhirnya menghilang karena hilang minat.

Harga Barang yang Mahal

Bisnis MLM ini lebih mirip dengan sistem reseller karena anggota MLM harus membeli stok produk yang akan dijual. Nantinya, produk-produk ini akan dijual kembali oleh para anggota MLM supaya bisa mendapat keuntungan dan mengembalikan modal yang sudah dikeluarkan. Sistem seperti ini memang tidak selalu diimplementasikan oleh setiap bisnis MLM, namun merupakan sistem yang paling sering diterapkan.

Baca juga:   Cara Melamar Kerja di Indomaret - Lowongan Kerja Indomaret 2024

Kamu pun perlu mempertimbangkan harga produk yang dijual di bisnis MLM ini. Umumnya, bisnis MLM menjual produk dengan harga yang mahal dengan klaim bahwa produk tersebut memiliki banyak manfaat. Tentu saja harga produk yang mahal juga berkaitan dengan jumlah komisi yang kamu dapatkan. Namun, harga mahal dari produk bisnis MLM ini juga jadi “racun” karena para calon pembeli yang cenderung enggan membeli karena harganya yang selangit.

Potensi Terjebak Skema Piramida

Sayangnya, bisnis MLM ini sangat erat hubungannya dengan skema piramida. Sistem ini pun masih belum diatur dengan jelas secara hukum di Indonesia, jadi kecil kemungkinannya untuk bisa maju ke ranah hukum. Ciri-ciri dari skema piramida ini adalah memaksa anggota MLM untuk merekrut lebih banyak anggota baru alih-alih menjual produk, adanya biaya masuk anggota baru, serta penetapan minimal barang yang harus dibeli oleh anggota MLM.

Dari ciri-ciri di atas, bisa dikatakan bahwa bisnis MLM menipu anggotanya untuk menjadi pembeli setia, bukan agen penjual. Banyak anggota MLM yang terjerumus dalam skema piramida dan akhirnya terlilit utang karena harus menutup besarnya biaya pembelian produk. Maka dari itu, kamu harus benar-benar memahami cara kerja bisnis MLM sebelum bergabung dan teliti membaca kontrak kerja. Jika sudah meneliti dan yakin dengan MLM tujuan kamu, silahkan bergabung. Tapi jika tidak, sebaiknya pikir-pikir dulu. Teliti sebelum membeli, telaah sebelum bergabung!

Perbedaan MLM dan Skema Ponzi

Multi Level Marketing dan skema piramida adalah dua hal berbeda. MLM menekankan pada perencanaan penjualan, sedangkan skema piramida lebih mementingkan pencarian downline atau bawahan.

Pemasaran berjenjang atau MLM memiliki produk yang jelas untuk dijual. Bonus bagi anggota juga bisa diperoleh dari penjualan produk tersebut. Bonus lainnya juga dapat diperoleh dari penjualan/pembelian produk yang berasal dari grup atau jaringan. Namun, masyarakat juga patut mencermati model bisnis MLM tersebut, karena bisa saja bisnis tersebut menggunakan skema ponzi sebagai pendapatan utama. Bisnis MLM yang legal harus memiliki Surat Izin Usaha Penjualan Langsung (SIUPL) yang diterbitkan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Sedangkan,keuntungan pada skema ponzi adalah hanya akan dirasakan pada peserta yang ikut di awal dan di tengah saja. Peserta yang baru saja mendaftar ketika jumlah anggota sudah jenuh lah yang akan menanggung kerugian. Apabila semua peserta sudah mencapai level tertinggi dan tidak ada lagi anggota baru yang dapat direkrut, maka dengan sendirinya bisnis ini akan runtuh.

Hindari MLM yang up-linenya hanya pamer uang banyak di medsos tanpa memberitahu prosedur kerja yang jelas. MLM yang benar, punya sistem pelatihan yang konkrit dan tersusun, serta dibawakan oleh pembicara yang kompeten. Bukan yang main comot saja dan memamerkan kesuksesan berkedok Multi Level Marketing.

MLM kerap menjanjikan bonus yang luar biasa, bisa sampai puluhan juta dalam seminggu. Jika dipikirkan rasanya sangatlah tidak mungkin, perusahaan juga butuh untung bung! MLM yang benar mempunyai perhitungan bonus yang jelas dan masuk akal.

Seringkali muncul kasus dimana oknum MLM melakukan penipuan kepada rekrutan baru mereka. Untuk itu kamu harus waspada dengan calon up-line mu yang hanya modal iming-iming tanpa pengarahan yang jelas.

Jika kamu tak ingin tertipu, caranya mudah: jadilah lebih pintar dari si penipu. Membaca artikel ini adalah salah satu caranya, share tulisan ini jika sekiranya dapat memberi lebih banyak manfaat.

Write A Comment

close